20090218171417, Dibaca : 157 Kali
Share
Kita Adalah Apa yang Kita Lakukan Saat Ini
22 January 2009
Posted by Fathul Wahid in Uneg-uneg.
Saya sering mendengar orang bergumam. “Oh, dulu kalau tidak ada saya, itu
tidak akan jadi!”, “Walah, dulu saya, bekerja keras untuk membantu
membuat ini dan itu. Gak ada uangnya!”, dan yang sejenisnya. Tidak ada
yang salah dengan fakta ini. Hanya saja, kalau orang yang bergumam
tersebut masih melakukan hal yang sama akan sangat bagus. Inilah yang
dalam Islam disebut dengan istiqomah, konsisten.
Mengapa penting? Masa lalu tidak bisa diputar. Benar, masa lalu mempunyai
kontribusi kepada masa kini, tetapi kita tidak bisa hidup hanya dengan
membanggakan masa lalu. Kita adalah apa yang kita lakukan sekarang.
Seseorang boleh mengaku dulunya santri atau anak kyai, tetapi kalau
sekarang menjadi preman, maka dia adalah preman. Tidak sedikit contoh yang
bisa kita lihat di dunia nyata. Banyak orang sukses pada masa lalu, tetapi
karena lupa bahwa umur bisa bertambah dan popularitas bisa surut, masa
depan tidak direncanakan dengan baik. Saya teringat cerita kawan tentang
seorang penarik becak di salah satu wilayah di Yogyakarta yang mendapatkan
uang sangat banyak dari turis asing yang sering dia antar. Uang tersebut
seharusnya bisa dilakukan untuk mengubah nasibnya dengan dijadikan modal
usaha, salah satunya. Apa yang dilakukan penarik becak tersebut? Segera
setelah mendapatkan uang tersebut, gaya hidupnya berubah. Tidur di hotel.
Setelah habis uangnya, kembalilah dia sebagai penarik becak. Tetap
menekuni pekerjaan di sini tentu saja bukan istiqomah. Dalam istiqomah ada
komponen hijrah, pencarian status yang lebih baik.
Sebaliknya, seorang dapat mempunyai masa lalu yang kelam, tetapi kalau
sekarang dia menjadi ustadz, dia adalah ustadz. Banyak contoh juga yang
telah ditayangkan di dunia nyata. Mantan bromocorah atau preman yang kini
menjadi ustadz adalah salah satunya.
Sindrom nostalgia inilah yang seringkali menghambat orang untuk berkembang
dan maju. Jangan mentang-mentang kita pernah merasa berjasa, kemudian gila
hormat, minta dihargai tanpa prestasi apa-apa untuk saat ini. Orang yang
hidup di bayang-bayang masa lalu ini biasanya cenderung menjadi
pemberontak dan justru tidak melanggengkan apa yang telah dia kerjakan
pada masa lalu tetapi seperti menagih bayaran lebih atas yang telah
dilakukan meskipun telah dibayar sebelumnya.
Kalau kita melakukan kebaikan dengan niat lurus, nampaknya hasilnya akan
berbeda. Tidak perlu menyuruh orang mengingat kita, menghargai kita.
Kebaikan kita akan selalu diingat, orang akan menghargai kita, meskipun
bukan itu tujuan kita berbuat baik.
Jangan-jangan kita juga termasuk orang yang terlalu mencintai masa lalu
dan lebih memilih hidup di bawah bayang-bayangnya. Kalau demikian halnya,
kita tak ubahnya sopir kendaraan dengan kaca depan tidak tembus pandang
tetapi mempunyai kaca spion yang terlalu besar. Mudah-mudahan tidak!