Kapal-kapal Perang Abad 21
Sama dengan arsenal lainnya, teknologi revolusioner juga menyentuh mesin-mesin perang laut. Setidaknya ada dua perubahan yang coba diadopsi, yaitu rancang bangun serta teknologi siluman (stealth). Tak langsung diterapkan pada kapal-kapal bertubuh bongsor macam kapal induk, namun diawali pada kapal kelas fregat dan korvet.
La Fayette sedang merapat di pelabuhan Tanjung Priok/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf
Peluncuran Visby pada awal Juni lalu maupun RV Triton pada pertengahan tahun 2000 mau tak mau jadi langkah pembuka revolusi mesin-mesin perang laut. Tak usah dulu mengusik jeroan elektroniknya, dari wujudnya saja, Visby, korvet siluman asal Swedia masuk dalam kategori aneh. Polos tanpa dihiasi laras-laras kanon atau tabung rudal. Namun jangan salah, semua alat pembasmi tersimpan dalam tubuh kapal.
Kategori yang sama juga bakal melekat kalau wujud RV Triton dicermati. Kapal masa datang keluaran Inggris ini malah lebih kental bernuansa olahraga ketimbang misi tempur yang seharusnya diemban. Utamanya, kehadiran kapal-kapal perang berbentuk aneh merupakan bagian dari evolusi arsenal laut. Berikut beberapa syarat yang mesti dipenuhi kapal-kapal perang abad 21.
Kecepatan
Soal kecepatan, tak hanya impian arsenal darat dan udara saja. Arsenal laut pun punya cita-cita sama. Pengalaman semasa PD II menunjukkan kalau gerakan yang terlalu lamban bisa membuat kapal perang sebagai sasaran empuk lawan. Apalagi musuh yang dihadapi juga terukur multi dimensi yaitu kapal permukaan, kapal selam, sampai armada udara dari kapal induk. Kecepatan tinggi dianggap mampu mengurangi risiko dilibas lawan.
Mesin bertenaga besar bisa jadi solusi paling gampang soal kecepatan. Namun berarti mau tak mau bobot kapal akan membengkak. Untuk mengakalinya maka tinggal desain tubuh kapal yang diotak-atik.
Tak selamanya hasil pemikiran pakar militer. Ide mendongkrak kecepatan kapal perang malah datang dari cabang olahraga berlayar. Hal ini terbukti ketika militer nyata-nyata mengadopsi konfigurasi berlambung ganda atau punya nama ilmiah Katamaran (Catamaran) untuk kapal perang. Desain macam ini biasa digunakan pada perahu-perahu layar aduan. Secara teknis rancang bangun Katamaran dijamin bisa memacu laju kapal tanpa harus merombak sistem propulsi (mesin). Teorinya, kapal berlambung tunggal (single hull) punya koefisien hambat yang lebih besar terhadap gelombang laut ketimbang kapal berlambung banyak (Quadrimaran).
Adalah AB Australia yang cukup sukses menggelar desain Katamaran untuk kepentingan militer. HMAS Jervis Bay, Katamaran versi pengangkut personel berdimensi panjang 86 meter miliknya malah pernah terlihat buang sauh di lepas pantai Dili dalam jajak pendapat Timtim tahun 1999 lalu.
Seperti disebutkan dalam web site INCAT Australia, sang produsen Katamaran, dalam operasi tersebut Jervis Bay sanggup melaju hingga kecepatan 45 knots. Atau kalau dihitung-hitung berarti dua kali kecepatan kapal-kapal transpor konvensional yang dioperasikan AL AS. Pada akhir 2001, kapal sejenis disewa oleh AB AS. Dengan mengusung nama High Speed Vessel Joint Venture (HSV-X1), AS berniat menggunakannya sebagai platform uji coba. Lebih jauh INCAT bahkan telah memberikan gambaran desain bagi dua varian Katamaran (versi 98 m dan 112 m) yang diperkirakan cocok untuk keperluan AB AS.
Namun demikian penerapan Katamaran sebenarnya punya efek negatif. Armada International (issue 6/2001) memergoki kalau konfigurasi lunas ganda ternyata bisa mengakibatkan keseimbangan kapal terganggu. Terutama pada saat berlayar di laut berombak ganas. Usut punya usut ternyata biangnya adalah paduan gelombang dari dua lunas yang kemudian menyatu bisa menyebabkan bagian belakang kapal bergoyang tak karuan.
Trimaran
Beda AS, beda pula jalan cerita Inggris. Dedengkot AL dunia ini punya jurus sendiri untuk mengatasi kelemahan Katamaran. Jawabannya adalah dengan mengadopsi konfigurasi tiga lunas (triple hull) atau dikenal dengan nama Trimaran. Intinya, Inggris menempatkan satu buah lunas utama di antara dua lunas pendukung. Selain untuk penempatan sistem gerak utama kapal, lunas utama kapal ini juga berfungsi sebagai pemecah gelombang dari dua lunas lainnya. Alhasil tubuh kapal lebih seimbang ketimbang konsep Katamaran.
Bukan sulap, Trimaran bernama RV Triton merupakan hasil buah pikiran kolaborasi Badan Pengembangan Strategis Kementrian Pertahanan Inggris (Defence Evaluation and Research Agency-DERA) dengan galangan kapal Vosper Thornycroft pada awal era 80-an. Seperti diungkap Popular Mechanics (Nov 99), konsep Trimaran cukup menjanjikan revolusi desain pada fregat dan korvet dimasa datang. Dari segi kecepatan, Trimaran digembargemborkan mampu melesat lebih cepat 20 persen ketimbang kapal berlunas konvensional (tunggal).
Namun konsep Quadrimaran baru bisa diterapkan pada kapal-kapal berukuran kecil. Memang telah muncul ide untuk menerapkan konsep semacam ini pada kapal berbobot besar seperti kapal induk. Cuma hal ini masih perlu dikaji lebih jauh lagi. Kendala utama datang dari masalah struktur. Sambungan antara lunas utama dengan lunas-lunas pendukung harus benar-benar mantap. Pasalnya selain harus menahan beban vertikal dari berbagai macam pesawat tempur yang diusung, beban horizontal dari gempuran gelombang laut juga mesti diperhatikan.
Siluman
Tak hanya F-117 Night Hawk, kemampuan siluman (stealth) juga diaplikasikan pada kapal perang abad 21 ini. Angkat topi buat Prancis untuk urusan kapal yang bisa hilang-menghilang dari layar radar. Bukan apa-apa, pasalnya dibawah bendera galangan kapal DCN International, AL Prancis menjadi AL pertama di dunia yang berhasil mengoperasionalkan fregat Kelas La Fayette yang berteknologi stealth. Terhitung sejak awal era 90-an AL Prancis telah berencana memiliki enam kapal tipe ini.
Mirip pesawat siluman, mengotak-atik bentuk merupakan resep utama untuk mewujudkan kapal perang berkemampuan stealth. Mengutip Armada International (5/97) sisi-sisi kapal rata-rata dibuat miring 45 persen sehingga dapat memantulkan gelombang radar ke arah stratosfir. Sebagai gambaran, pada bagian sisi-sisi anjungan terlihat bersudut tanpa dilengkapi dengan pagar pembatas seperti layaknya kapal konvensional.
Masih berhubungan dengan urusan wujud kapal, tonjolan-tonjolan yang ada pada tubuh kapal sebisa mungkin dieliminasi. Contoh paling ekstrim mungkin bisa dilihat pada kapal siluman AS berkonfigurasi Katamaran, Sea Shadow. Hasil kolaborasi AL AS, Divisi Rudal dan Antariksa Lockheed Martin, serta ARPA (Advanced Research Projects Agency) ini menyimpan seluruh antena, termasuk juga radar ke dalam tubuh kapal. Segala macam aksesori Sea Shadow yang berbentuk menara baru bisa dipergoki saat kapal ini akan beraksi. Selebihnya bila dilihat sepintas, tampilan kapal akan terlihat polos-polos saja.
Selain desain rancang bangun, material yang dipakai untuk membangun kapal juga tidak asal comot. Material istimewa ini berlabel FRP (Fibre Reinforced Plastic). Hampir bisa dipastikan seluruh bagian atas kapal (superstructure) termasuk cerobong mesin mengadopsi bahan FRP. Lapisan antigelombang radar (non-reflective paint) juga dilaburkan pada bagian kapal yang tak menggunakan bahan FRP.
Namun sebenarnya segala muslihat tadi tak sepenuhnya bisa menghilangkan kehadiran sebuah kapal perang pada layar radar. Jurus-jurus tersebut hanya manjur untuk mengurangi RCS (Radar Cross Section). Alhasil di layar radar tampilan kapal akan kelihatan lebih kecil ketimbang aslinya. Ujungnya musuh ditanggung bakal keliru dalam memprediksi kehadiran sebuah kekuatan tempur laut.
Tak selamanya sakti, kemampuan siluman juga punya kelemahan. Hal ini terungkap saat fregat siluman Prancis, Aconit (sekelas La Fayette) berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta April 2000 lalu. Seperti yang diceritakan Benoit Silve, sang komandan Aconit, manuver antara dua kapal perang stealth ternyata bisa mengakibatkan tabrakan. Pasalnya kedua kapal sama-sama tak terlihat di layar radar.
Masih butuh meriam
Mirip kapal-kapal perang yang sekarang operasional, setidaknya ada tiga jenis senjata yang jadi standar fregat dan korvet masa datang: anti permukaan, anti pesawat dan anti bawah permukaan.
Ada dua pilihan persenjataan anti permukaan, yaitu rudal dan meriam kapal. Kehadiran rudal permukaan ke permukaan (SSM-Surface to Surface Missiles) mampu menggeser dominasi fungsi meriam kapal baik untuk melibas kapal lawan maupun sasaran di darat. Ada satu kunci yang membuat rudal sukses menggeser dominasi meriam kapal, yaitu keakuratan serta tak adanya hentakan balik (recoil) saat sebuah rudal diluncurkan. Keuntungan ini jelas berpengaruh pada masalah keseimbangan kapal.
Namun demikian bukan berarti meriam bisa dihapuskan begitu saja dari atas dek kapal. Meriam dianggap masih berperan ketika kapal didaulat berpatroli pada masa-masa damai.
Analisa pakar pertahanan laut menunjukkan bahwa meriam kaliber 76 mm hingga 127 mm dianggap cocok untuk tugas teritorial. Untuk memberikan bantuan tembakan ke darat dalam pertempuran, kaliber tersebut kelewat ringan serta jarak jangkaunya terbatas. Untuk itu dimasa datang meriam-meriam kapal akan ditingkatkan antara 155 hingga 203 mm yang diadopsi dari meriam artileri darat.
Revolusi lain dari persenjataan kapal adalah pada sistem peluncur rudal. Tren yang dianggap bakal mewabah pada kapal-kapal masa datang adalah sistem peluncur vertikal (VLS-Vertical Launch System).